ASMA
Definisi Asma
Asma (dalam bahasa Yunani ἅσθμα,
ásthma, "terengah") merupakan peradangan
kronis yang umum terjadi pada
saluran napas yang ditandai dengan gejala yang bervariasi dan berulang, penyumbatan saluran napas yang bersifat reversibel, dan
spasme bronkus. Gejala umum meliputi
mengi,
batuk, dada terasa berat, dan
sesak napas.
Asma pada awalnya diperkirakan disebabkan oleh kombinasi faktor
genetika dan lingkungan.Diagnosis biasanya didasarkan atas pola gejala, respons terhadap terapi pada kurun waktu tertentu, dan
spirometri.Asma diklasifikasikan secara klinis berdasarkan seberapa sering gejala muncul, volume ekspirasi paksa dalam satu detik (
FEV1), dan
puncak laju aliran ekspirasi.Asma dapat pula diklasifikasikan sebagai
atopik (ekstrinsik) atau non-atopik (intrinsik) dimana atopi dikaitkan dengan predisposisi perkembangan reaksi
hipersensitivitas tipe 1 .
Terapi untuk gejala akut biasanya dengan menghirup
beta-2 agonist reaksi cepat (misalnya
salbutamol) dan
kortikosteroid oral. Pada kasus yang sangat parah mungkin diperlukan pemberian kortikosteroid intravena,
magnesium sulfat dan perawatan di rumah sakit. Gejala ini dapat dicegah dengan menghindari pencetusnya, seperti misalnya
alergen dan
iritan, dan dengan penggunaan kortikosteroid hirup.
Beta agonist reaksi lambat (LABA) atau
leukotrien antagonis dapat ditambahkan, selain pemberian kortikosteroid hirup bila gejala asma tidak dapat dikontrol.
Prevalensi asma mengalami peningkatan secara signifikan sejak tahun
1970an. Pada tahun 2011, 235–300 juta orang terserang asma secara
global, termasuk adanya 250.000 kematian.
Tanda-tanda dan Gejala
Asma ditandai dengan adanya episode berulang dari mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk.Dahak bisa saja terbentuk di paru-paru karena batuk tetapi sulit untuk dikeluarkan. Selama masa penyembuhan setelah serangan mungkin terbentuk apa yang disebut mirip nanah yang disebabkan oleh tingginya kandungan sel darah putih yang disebut eosinofil. Gejala biasanya memburuk pada waktu malam atau pagi hari atau sebagai respons terhadap kegiatan olah raga atau udara dingin.
Pada sejumlah penderita asma ada yang jarang menunjukkan gejala,
sebagai respons terhadap pemicu, sedangkan sejumlah penderita asma yang
lain mungkin menunjukkan gejala yang nyata dan persisten.
Kondisi yang berkaitan
Sejumlah kondisi kesehatan lain yang sering muncul pada mereka yang menderita asma adalah:penyakit refluks gastroesofagus (GERD), rinosinusitis, dan apnea tidur obstruktif. Gangguan psikologis juga sangat umum dengan munculnya gangguan kecemasan antara 16–52% dan gangguan suasana hati pada 14–41%. Namun tidak diketahui dengan pasti apakah asma menyebabkan gangguan psikologis atau masalah psikologis menyebabkan asma.
Penyebab
Asma disebabkan oleh interaksi lingkungan dan genetika yang merupakan kombinasi yang rumit dan belum sepenuhnya dimengerti. Semua faktor ini memengaruhi baik tingkat keparahan dan juga respons terhadap terapi. Adanya peningkatan laju penderita asma belakangan ini disebabkan oleh perubahan faktor epigenetik (terwariskan selain adanya hubungan dengan urutan DNA) dan lingkungan hidup yang berubah.
Lingkungan
Berbagai faktor lingkungan yang dihubungkan dengan timbulnya asma dan
eksaserbasi asma yaitu: alergen, polusi udara, dan senyawa kimiawi
lingkungan lainnya.
Merokok selama masa kehamilan dan setelah melahirkan dihubungkan dengan risiko yang lebih besar untuk gejala mirip asma.
kualitas udara buruk, dari polusi kendaraan atau kadar
ozon yang tinggi, selalu dihubungkan dengan timbulnya asma dan peningkatan keparahannnya.Pajanan terhadap
uap senyawa organik dalam ruangan dapat memicu asma; pajanan
formaldehida, misalnya, menunjukkan hubungan yang positif. Selain itu,
ftalat pada
PVC juga dihubungkan dengan asma pada anak-anak dan dewasa sebagai sumber pajanan terhadap konsentrasi
endotoksin tinggi.
Asma dihubungkan dengan pajanan terhadap alergen dalam ruangan. Alergen dalam ruangan yang umum diantaranya adalah:
tungau debu,
kecoa, ketombe hewan, dan jamur. Berbagai upaya untuk mengurangi tungau debu ternyata tidak efektif.Infeksi virus tertentu pada saluran nafas dapat meningkatkan risiko
timbulnya asma apabila terjadi saat masih anak-anak seperti misalnya:
respiratory syncytial virus dan
rinovirus. Akan tetapi beberapa jenis infeksi lain dapat menurunkan risiko.\
Hipotesis kebersihan
Hipotesis kebersihan
adalah suatu teori yang mencoba untuk menjelaskan kenaikan laju
penderita asma di seluruh dunia sebagai hasil langsung dan tidak terduga
dari berkurangnya pajanan terhadap bakteri dan virus non-infeksi selama
masa kanak-kanak.
Hal ini telah diungkapkan bahwa berkurangnya pajanan terhadap bakteri
dan virus, sebagian, disebabkan oleh meningkatnya tingkat kebersihan dan
jumlah keluarga pada masyarakat modern.Bukti
yang mendukung hipotesis kebersihan ini diantaranya adalah rendahnya
penderita asma di tanah pertanian dan rumah tangga yang memiliki hewan
peliharaan.
Penggunaan
antibiotik pada usia dini juga dihubungkan dengan timbulnya asma.Juga, proses melahirkan melalui
bedah sesar
juga diasosiasikan dengan meningkatnya risiko asma (diperkirakan antara
20–80%)—peningkatan risiko ini dihubungkan dengan berkurangnya koloni
bakteri sehat yang seharusnya didapatkan bayi yang lahir melalui saluran
kelahiran. Dapat dilihat adanya keterkaitan antara asma dan tingkat kemakmuran.
Genetika
Sejarah keluarga merupakan faktor risiko asma yang melibatkan berbagai gen. Bila salah satu dari kembar identik mengidap asma, probabilitas dari pasangan kembarnya menderita penyakit ini sekitar 25%. Pada akhir tahun 2005, 25 gen telah diasosiasikan dengan asma pada enam atau lebih populasi terpisah diantaranya:
GSTM1,
IL10,
CTLA-4,
SPINK5,
LTC4S,
IL4R and
ADAM33. Kebanyakan dari gen ini berhubungan dengan sistem imun atau modulasi
proses peradangan. Walaupun sudah sering dilakukan penelitian yang
mendukung daftar gen ini, hasil yang diperoleh belum konsisten dengan
semua populasi yang diuji.Pada tahun 2006 terdapat lebih dari 100
gen yang dihubungkan dengan asma hanya pada satu penelitian
asosiasi genetika saja; masih banyak yang ditemukan pada penelitian lain .
Sejumlah varian genetika hanya akan menyebabkan asma bila berkombinasi dengan pajanan lingkungan tertentu. sebagai contoh adalah
polimorfisme nukleotida tunggal spesifik dalam wilayah
CD14 dan pajanan terhadap
endotoksin
(suatu produk bakteri). Pajanan endotoksin dapat berasal dari berbagai
sumber lingkungan termasuk di dalamnya asap tembakau, anjing dan tanah
pertanian. Risiko terhadap asma, selanjutnya, ditentukan baik
berdasarkan genetika orang tersebut dan juga tingkat pajanan endotoksin.
Kondisi medis
Suatu keadaan tiga serangkai yang terdiri dari
eksim atopik,
rinitis alergi dan asma disebut sebagai atopi.Faktor risiko paling kuat yang menyebabkan timbulnya asma adalah riwayat
penyakit atopik; munculnya asma pada laju yang lebih besar pada mereka yang menderita
eksim atau
demam hay. Asma juga dihubungkan dengan
Churg–Strauss syndrome, suatu penyakit autoimun dan
vaskulitis. Seseorang dengan tipe
urtikaria tertentu juga dapat mengalami gejala asma.
Terdapat korelasi antara
obesitas dan risiko asma karena keduanya menunjukkan kenaikan beberapa tahun belakangan ini.
Beberapa faktor yang mungkin memainkan peranan penting diantaranya
adalah menurunnya fungsi pernapasan karena adanya timbunan lemak dan
pada kenyataannya jaringan lemak dapat menimbulkan peradangan.
Berbagai obat yang mengandung
penyekat beta seperti misalnya
propranolol dapat memicu asma pada seseorang yang rentan.
Penyekat beta kardioselektif, bagaimanapun, tampaknya aman diberikan pada penderita dengan penyakit asma yang ringan atau sedang. Pengobatan lain yang dapat menyebabkan masalah adalah
ASA,
OAINS, dan
inhibitor enzim pengubah angiotensin.
Serangan asma
Beberapa individu akan menderita asma tanpa gejala/stabil selama
berminggu-minggu atau berbulan-bulan dan kemudian secara mendadak dalam
perjalanannya berkembang menjadi episode asma akut. Individu yang
berbeda akan bereaksi berbeda pula terhadap berbagai faktor.
Pada sebagian besar individu dapat terjadi peningkatan intensitas
gejala suatu penyakit yang berat akibat dari sejumlahpemicu. .
Ada banyak faktor di rumah yang dapat menjad penyebab munculnya serangan asma asma yang meliputi
debu, binatang
ketombe(terutama rambut kucing dan anjing), kecoa
alergen dan
jamur.parfum merupakan penyebab serangan asma yang paling umum pada wanita dan anak-anak.
infeksi viral dan bakteri s pada saluran pernapasan atas, keduanya dapat memperburuk penyakit ini. Faktor psikologi seperti
stress
dapat memperburuk gejalanya— Diperkirakan stres dapat mengubah sistem
imunitas dan selanjutnya meningkatkan reaksi peradangan saluran napas
sebagai respons terhadap alergen dan iritan.
Patofiologi
Asma merupakan kondisi yang diakibatkaninflamasi]] kronis pada saluran napas yang kemudian dapat meningkatkan kontraksi
otot polos.di
sekeliling saluran napas. Hal ini, bersama dengan faktor lain
menyebabkan penyempitan saluran napas sehingga menimbulkan gejala klasik
berupa mengi. Penyempitan saluran napas biasanya dapat pulih dengan
atau tanpa pemberian terapi.Adakalanya saluran napas itu sendiri yang
berubah. Biasanya terjadinya perubahan di saluran napas, termasuk meningkatnya
eosinofil dan penebalan
lamina retikularis.
Dalam jangka waktu lama, otot polos saluran napas bisa bertambah
ukurannya bersamaan dengan bertambahnya jumlah kelenjar lendir.Jenis sel
lain yang terlibat yaitu:
Limfosit T,
makrofag, dan
neutrofil. Kemungkinan ada juga keterkaitan komponen lain
sistem imun yaitu: antara lain
sitokin,
kemokin,
histamin, and
leukotrien.
Diagnosis
Walaupun asma merupakan kondisi yang sudah dikenal secara umum, namun
tidak terdapat kesepakatan universal mengenai definisi asma. Definisi yang ditetapkan oleh
Global Initiative for Asthma
adalah "kelainan peradangan kronis pada saluran napas dimana banyak sel
dan elemen sel berperan. Kelainan peradangan kronis tersebut
berhubungan dengan respons berlebih dari saluran napas yang menyebabkan
mengi berulang, sesak napas, rasa berat di dada dan batuk terutama di
malam hari atau dini hari. Semua kejadian ini biasanya berhubungan
dengan penyumbatan saluran napas yang luas namun bervariasi di paru-paru
yang dapat pulih secara spontan atau setelah pemberian terapi ".
Pada saat ini tidak ada uji yang tepat untuk melakukan diagnosis
melainkan dengan melihat pola gejala penyakit dan reaksinya terhadap
terapi..Dugaan diagnosis asma adalah bila ditemukan riwayat: mengi berulang,
batuk atau sesak napas dan semua gejala ini terjadi atau memburuk karena
aktivitas olahraga, infeksi virus, alergen atau polusi udara.
Spirometri digunakan untuk konfirmasi diagnosis asma.
Untuk anak-anak dibawah usia enam tahun diagnosis asma menjadi lebih
sulit karena anak-anak pada usia tersebut terlalu muda untuk menggunakan
alat spirometri.
Spirometri
Spirometri direkomendasikan untuk membantu diagnosis penyakit dan manajemen terapi. Alat itu satu-satunya alat uji untuk mendeteksi asma. Jika
FEV1 diukur oleh teknik ini menunjukkan pengingkatan lebih dari 12% pasca pemberian bronkodilator seperti
salbutamol,
maka hal ini akan mendukung diagnosis. Hasil pemeriksaan ini dapat saja
normal untuk individu yang memiliki riwayat asma ringan, walau saat ini
tidak dalam serangan.
Single-breath diffusing capacity dapat membantu membedakan asma dari
PPOKSebaiknya pemeriksaan spirometri dilakukan setiap satu atau dua tahun
untuk memastikan seberapa baik kondisi asma seseorang terkontrol dengan
terapi.
Lainnya
metakolin provokasi
berupa proses inhalasi zat dengan konsentrasi yang tinggi yang dapat
menyebabkan penyempitan saluran napas pada individu yang rentanterhadap
asma saluran. Jika negatif maka berarti orang tersebut tidak berpenyakit
asma; namun jika positif, bukan berarti orang tersebut memiliki asma,
karena tes ini tidak spesifik untuk asma..
Bukti pendukung lainnya yaitu: terdapat perbedaan sebesar ≥20% pada
puncak laju aliran ekspirasi
setidaknya tiga hari dalam seminggu untuk paling tidak dua minggu,
kondisi peningkatan ≥20% pada puncak aliran udara setelah dilakukan
terapi menggunakan salbutamol, kortikosteroids atau prednison yang
dihirup, atau penurunan ≥20% pada puncak aliran udara pasca pajanan
terhadap pemicu.
Variabilitas uji puncak laju aliran udara lebih besar daripada
spirometri, sehingga tes tersebut tidak direkomendasikan untuk
pemeriksaan rutin penegakkan diagnosis. Pemeriksaan tersebut bermanfaat
untuk pemantauan harian mandiri pasien dengan asma derajat sedang hingga
berat, untuk memeriksa efektivitas pengobatan baru. Pemeriksaan ini
dapat juga berfungsi sebagai pedoman terapi pada pasien dengan serangan
asma akut.
Klasifikasi
Klasifikasi klinis (untuk berumur ≥ 12 tahun)[6]
| Keparahan |
Seringnya terjadi gejala |
Gejala pada waktu malam hari |
%FEV1 sesuai diperkirakan |
FEV1 Variabilitas |
penggunaan SABA |
| intermiten |
≤2/minggu |
≤2/bulan |
≥80% |
<20% |
≤2 hari/minggu |
| Persisten ringan |
>2/minggu |
3–4/bulan |
≥80% |
20–30% |
>2 hari/minggu |
| Persisten sedang |
Harian |
>1/minggu |
60–80% |
>30% |
harian |
| ersisten berat |
Secara kontinu |
Seringnya (7×/minggu) |
<60% |
>30% |
≥dua kali/hari |
Asma secara klinis diklasifikasikan berdasarkan seberapa sering gejala muncul, volume ekspirasi paksa dalam satu detik (
FEV1), dan
puncak laju aliran ekspirasi.
Asma bisa juga diklasifikasikan sebagai atopik (ekstrinsik) atau non-
atopik (intrinsik), berdasarkan pada gejala yang munculditimbulkan oleh
alergen (atopik) atau bukan (non-atopik).
Klasifikasi asma sampai saat ini dibuat berdasarkan tingkat keparahan
penyakit, pada saat ini tidak ada metode lain untuk mengklasifikasikan
subgrup asma di luar metode ini.Menemukan cara lain untuk mengidentifikasi subgrup asma yang berespons
baik terhadap jenis terapi yang berbeda saat ini menjadi tujuan utama
penelitian mengenai asma..
Meskipun asma adalah kondisi
obstruktif kronik, penyakit tersebut tidak dianggap bagian dari
penyakit paru obstruktif kronik sebab istilah ini digunakan khusus untuk gabungan penyakit yang tidak dapat disembuhkan kembali seperti sedia kala seperti
bronkiektasis,
bronkhitis kronik, dan
emfisema.Tidak seperti penyakit diatas, obstruksi saluran napas pada asma
biasanya dapat pulih kembali seperti sedia kala, akan tetapi bila
dibiarkan tanpa terapi, proses peradangan kronis pada asma dapat
menyebabkan kondisi obstruksi pada paru-paru menjadi tidak dapat
disembuhkan karena perubahan bentuk pada saluran napas. Berbeda dengan
emfisema, asma akan mempengaruhi saluran pernapasan, dan bukannya
alveoli.
Serangan asma akut
tingkat keparahan serangan asma akut
| Hampir menyebabkan kematian |
PaCO2 tinggi dan/atau membutuhkan bantuan alat ventilasi mekanik |
Mengancam nyawa
(orang tertentu pada) |
| Tanda-tanda klinis |
Pengukuran |
| Perubahan tingkat kesadaran |
Puncak aliran < 33% |
| Kelelahan |
Saturasi Oksigen < 92% |
| Aritmia |
PaO2 < 8 kPa |
| Rendah tekanan darah |
"Normal" PaCO2 |
| Sianosis |
|
| Tidak ada aliran udara yang terdengar |
|
| Upaya nafas buruk |
|
Sangat akut
(orang tertentu pada) |
| Puncak aliran 33–50% |
| Frekuensi pernapasan ≥ 25 bernapas setiap menit |
| Frekuensi denyut jantung ≥ 110 denyut setiap menit |
| Tidak dapat menyelesaikan kalimat dalam satu kali tarikan napas |
| Sedang |
Gejala memburuk |
| Puncak aliran 50–80% terbaik atau diperkirakan |
| Tidak ada fitur asma sangat berat |
Eksaserbasi asma akut biasanya dikenal sebagai suatu
serangan asma. Gejala klasiknya adalah
sesak nafas,
mengi, and
rasa berat di dada. Walaupun gejala tersebut adalah gejala primer asma, namun beberapa orang dengan asma datang dengan gejala
batuk, dan pada kasus yang sangat parah, aliran udara benar-benar terganggu sehingga tidak terdengar lagi suara mengi.
[74]
Tanda yang dapat ditemukan pada saat serangan asma yaitu penggunaan
otot tambahan untuk bernapas yaitu (
sternokleidomastoid dan
otot scalene di leher), terdapat juga
denyut nadi paradoks
(denyut nadi yang melemah pada saat menarik napas dan denyut nadi
menjadi kuat saat menghembuskan napas), serta penggembungan dada yang
berlebihan .
warna biru di kulit dan kuku bisa terjadi akibat kekurangan oksigen.
Pada asma serangan ringan
Puncak laju aliran ekspirasi (PEFR) yaitu ≥200 L/men atau ≥50% dari perkiraan terbaik.
Asma serangan sedang yaitu antara 80 sampai 200 L/men atau 25% sampai
50% sesuai dengan perkiraan sedangkan bertambah parah berat yaitu ≤ 80
L/men atau ≤25% dari perkiraan.
Asma serangan berat
, sebelumnya dikenal sebagai status asmatikus, adalah bertambah
parahnya asma atau serangan asma akut yang tidak memberikan respons
terhadap terapi standar dengan bronkodilator dan kortikosteroid.
Setengah dari kasus ini terjadi karena infeksi dan yang lainnya terjadi
karena alergen, polusi udara atau pemakaian obat yang tidak cukup atau
tidak sesuai.
Brittle asthma adalah jenis asma yang menyebabkan serangan berat dan berulang..
. Tipe 1 asma brittle adalah penyakit dengan puncak aliran yang sangat
bervasiasi meskipun dengan pengobatan yang memadai. Tipe 2 brittle asma
adalah asma yang sebelumnya sudah terkontrol dengan baik, tiba-tiba
mengalami serangan berat.
Asma yang Dipicu oleh Olahraga
Olahraga dapat memicu terjadinya penyempitan saluran pernapasan
bronkokonstriksi pada penderita asma maupun bukan. Penderita asma lebih sering mengalami hal ini dan hanya sekitar <20% orang tanpa asma yang mengalaminya. Penyempitan saluran napas pada atlet lebih jamak ditemukan pada kelompok atlet elit dengan angka beragam mulai 3% pada pebalap
bobsled sampai 50% pada pebalap
sepeda dan 60% pada atlet
ski lintas alam.Meskipun asma bisa muncul dalam kondisi cuaca apapun, namun penyakit
ini lebih sering terjadi pada kondisi cuaca kering dan dingin. beta2 agonis hirup sepertinya tidak meningkatkan performa atletik para atlet yang tidak mengidap penyakit asma namun pemberian dosis secara oral bisa meningkatkan ketahanan dan kekuatan.
Asma yang Dipicu oleh Tempat Kerja
Asma sebagai akibat dari (atau yang diperburuk oleh) pajanan tempat kerja biasanya dilaporkan sebagai
penyakit akibat kerja.Namun banyak kasus yang tidak dilaporkan atau disebut sebagai penyakit akibat kerja.
Diperkirakan, ada 5–25% kasus asma pada orang dewasa yang terkait
dengan pekerjaan. Sekitar ratusan ragam jenis agensia dikaitkan dengan
kasus-kasus ini. Di antaranya yang paling umum adalah:
isosianat, debu biji-bijian dan kayu, resin
colophony, cairan solder
soldering flux, lateks
latex, hewan, dan
aldehida. Pekerja yang memiliki risiko paling tinggi antara lain: pekerja yang menggunakan
cat semprot, pembuat roti dan pemroses makanan lainnya, perawat, pekerja bahan kimia, pekerja bersama hewan-hewan,
tukang las, pemangkas rambut, dan pekerja pemrosesan kayu.
Diagnosis banding
Ada banyak kondisi lain yang bisa menimbulkan gejala-gejala yang
mirip gejala pada asma. Penyakit saluran napas bagian atas selain asma
pada anak-anak, misalnya
rinitis alergi dan
sinusitis juga harus dikategorikan sebagai penyebab obstruksi saluran napas, seperti juga:
aspirasi benda asing, penyempitan abnormal pada saluran napas utama (
stenosis trakea) atau
laringotrakeomalasia,
cincin vaskular,
kelenjar limfe yang membesar atau benjolan di leher. Kemudian pada orang dewasa, antara lain
COPD,
gagal jantung kongestif,
benjolan di saluran napas, serta batuk akibat inhibitor ACE, juga karus
dikategorikan sebagai penyebab gejala mirip asma. Sementara yang bisa
terjadi pada kedua populasi tersebut yaitu
disfungsi pita suara.
Penyakit paru obstruktif kronis
atau PPOK bisa muncul bersama-sama dengan asma dan bisa juga muncul
sebagai komplikasi asma kronis. Setelah usia 65, sebagain besar orang
yang mengidap penyakit obstruksi saluan napas juga menderita asma dan
PPOK. Dalam hal ini, PPOKbisa dibedakan dari meningkatnya jumlah
neutrofil di saluran napas, bertambah tebalnya dinding saluran napas
secara abnormal, dan peningkatan jumlah otot polos di bronkus. Meski
demikian, tingkat penyelidikan sampai tahap ini tidak dilakukan karena
PPOK dan asma memiliki prinsip-prinsip tata laksana yang sama, yaitu:
kortikosteroid, beta agonis kerja-lambat, dan penghentian merokok.
Selain gejala-gejala PPOKyang mirip dengan gejala pada asma, penyakit
ini juga dihubungkan dengan terlalu seringnya terpapar asap rokok, usia
tua, gejala yang lebih sulit dipulihkan setelah pemberian obat
bronkodilator, serta berkurangnya kemungkinan riwayat atopi keluarga.
Pencegahan
Efektivitas langkah-langkah pencegahan timbulnya asma ternyata tidak memiliki bukti kuat. Ada beberapa yang cukup kuat antara lain: pembatasan pajanan terhadap rokok baik pada saat
dalam kandungan dan setelah lahir,
menyusui,
dan peningkatan pajanan terhadap tempat penitipan anak atau keluarga
besar. Namun, kedua langkah ini tidak didukung oleh bukti yang cukup
untuk dijadikan rekomendasi indikasi penyakit ini. Pajanan terhadap binatang peliharaan pada usia dini juga mungkin bermanfaat. Namun, pengamatan pajanan terhadap hewan peliharaan ini dalam keadaan yang berbeda tidak memberikan hasil meyakinkan
dan rekomendasi yang diberikan hanya memindahkan hewan peliharaan dari
rumah pasien yang memiliki gejala alergi terhadap piaraan tersebut.
Pembatasan asupan selama masa kehamilan atau pada saat menyusui juga
tidak pernah terbukti efektif sehingga tidak direkomendasikan.Pengurangan atau penghilangan senyawa tertentu yang diketahui berasal
dari tempat kerja pada orang-orang yang sensitif bisa jadi memberikan
hasil efektif.
Tata Laksana
Meskipun tidak ada obat untuk asma, gejala-gejala yang muncul biasanya bisa disembuhkan.
Untuk itu, harus ada suatu rancangan penanganan khusus yang bisa
disesuaikan untuk pemantauan dan pengelolaan gejala. Rancangan ini harus
memasukkan langkah pengurangan pajanan terhadap alergen, pengujian
untuk mengetahui tingkat keparahan gejala, dan penggunaan obat-obatan.
Rancangan pengobatan harus ditulis dan saran penyesuaian pengobatan
harus diberikan berdasarkan terjadinya perubahan-perubahan pada gejala.
Cara pengobatan asma yang paling efektif yaitu menemukan pemicunya, misal
merokok, hewan peliharaan, atau
aspirin,
dan menghilangkan pajanan terhadap pemicu-pemicu tersebut. Jika
menjauhi pemicu masih belum cukup, baru disarankan untuk menggunakan
obat. Obat farmasi dipilih berdasarkan, antara lain, keparahan penyakit
dan frekuensi gejala. Pengobatan khusus untuk asma secara luas
dikategorikan dalam obat reaksi-cepat dan reaksi-lambat.
Bronkodilator
direkomendasikan untuk pelega jangka pendek. Pada pasien yang
mendapatkan serangan sesekali, tidak diperlukan obat lain. Jika
penyakitnya ringan namun persisten (terjadi serangan lebih dari dua kali
dalam seminggu), maka disarankan menggunakan kortikosteroid hirup dosis
rendah atau
antagonis leukotriene oral atau
stabiliser sel mast.
Bagi pasien yang mendapatkan serangan setiap hari, disarankan
menggunakan kortikosteroid hirup dengan dosis yang lebih tinggi. Pada
serangan asma sedang atau berat, kortikosteroid oral turut ditambahkan
ke dalam rancangan pengobatan ini.
Modifikasi Gaya Hidup
Menjauhi pemicu merupakan komponen kunci dalam meningkatkan kendali dan mencegah serangan. Pemicu yang paling umum antara lain
alergen, rokok (tembakau dan lainnya), polusi udara,
penghambat beta non selektif, dan makanan yang mengandung sulfit. Merokok dan
menjadi perokok pasif dapat mengurangi efektivitas obat seperti kortikosteroid.
Pengendalian tungau debu, termasuk penyaringan udara, bahan kimia
pembasmi tungau, pengisapan debu, pemakaian sprei, dan metode lainnya
tidak berpengaruh pada pengurangan gejala asma.
Obat
Obat yang digunakan untuk menangani asma dibagi menjadi dua kelas
umum yaitu: obat pelega napas cepat yang digunakan untuk menangani
gejala akut; dan obat pengendali jangka panjang yang digunakan untuk
mencegah perburukan lebih lanjut.
- Reaksi-cepat
alat hirup
Salbutamol metered dose yang biasa digunakan untuk mengobati asma.
- Reaksi-singkat agonis beta2-adrenoseptor (SABA), seperti salbutamol (albuterol USAN) atau Nama yang Diadopsi Amerika Serikat, merupakan pengobatan garis pertama untuk gejala asma.
- Obat Antikolinergik, misalnya ipratropium bromida, memberikan manfaat lain saat digunakan dalam kombinasi dengan SABA untuk pasien yang mengalami gejala sedang atau berat. Bronkodilator antikolinergik juga dapat digunakan jika pasien tidak dapat menoleransi SABA.
- agonis adrenergik versi lama yang kurang selektif seperti epinefrin hirup, memiliki tingkat kemanjuran yang setara dengan jenis SABA.
Meski demikian, obat-obatan tersebut tidak direkomendasikan karena
kekahawatiran akan terjadinya stimulasi berlebihan terhadap jantung.
- Pengendali jangka panjang
- Kortikosteroid secara umum dinilai sebagai obat paling efektif yang tersedia untuk pengendali jangka panjang.
Biasanya, bentuk hirup lebih banyak dipakai kecuali untuk kasus
penyakit berat yang persisten yang mungkin membutuhkan kortikosteroid
oral. Biasanya, formula hirup direkomendasikan untuk digunakan satu atau dua kali sehari, tergantung tingkat keparahan gejala.
- Long-acting beta-adrenoceptor agonist (LABA) atau Agonis beta-adrenoseptor reaksi-lambat seperti salmeterol dan formoterol dapat memperkuat pengendalian asma, meskipun hanya pada orang dewasa, bila dikombinasikan dengan kortikosteroid hirup. Manfaatnya pada anak-anak belum jelas. Jika digunakan tanpa steroid, obat-obatan ini meningkatkan risiko terjadinya efek samping, bahkan saat digunakan bersama kortikosteroid, risiko ini tetap sedikit mengalami peningkatan.
- Antagonis Leukotrien (seperti montelukast dan zafirlukast)
bisa jadi digunakan bersama kortikosteroid hirup sebagai tambahan, dan
secara khusus digunakan dalam satu rangkaian dengan LABA.Tidak ada cukup bukti yang menguatkan manfaat penggunaan obat-obatan ini untuk serangan asma akut.Pada anak-anak di bawah lima tahun, obat-obatan ini menjadi terapi tambahan kortikosteroid hirup yang lebih sering dipilih.
- Stabiliser sel mast (seperti sodium kromolin) adalah pilihan lain yang tidak begitu disukai dibandingkan kortikosteroid.
- Metode konsumsi obat
Obat biasanya tersedia dalam bentuk
metered-dose inhaler (MDI) yang dikombinasikan dengan
spacer asma atau dalam bentuk
dry powder inhaler
atau DPI. Spacer adalah silinder plastik yang mencampurkan obat dengan
udara sehingga obat mudah diterima dalam dosis penuh. Alat
nebulizer
juga bisa digunakan. Nebulizer dan spacer sama-sama efektif untuk
pasien dengan gejala ringan sampai sedang, namun tidak ada cukup bukti
untuk menentukan apakah memang ada perbedaan jika diterapkan pada gejala
berat.
- Dampak merugikan
Penggunaan kortikosteroid hirup dengan dosis konvensional dalam jangka panjang membawa risiko dampak merugikan yang ringan. Risiko tersebut antara lain timbulnya
katarak dan menurunnya tinggi perawakan tubuh.
Lain-lain
Bila asma tidak bereaksi dengan obat biasa, pilihan lain tersedia
baik untuk tata laksana darurat maupun untuk mencegah kambuh. Untuk tata
laksana darurat pilihan lain termasuk:
- Oksigen untuk meringankan hipoksia bila saturasi jatuh di bawah 92%.
- Magnesium sulfat
pengobatan intravena telah menunjukkan efek bronkodilasi bila digunakan
sebagai tambahan pengobatan dalam serangan asma akut berat.
- Helioks, campuran helium dan oksigen, bisa juga dipertimbangkan dalam kasus berat yang tidak menunjukkan respons.
- Salbutamol intravena tidak didukung oleh bukti tersedia dan oleh karena itu hanya digunakan dalam kasus ekstrim.
- Metilksantin (seperti teofilin) dulu sering digunakan, tapi tidak memberikan efek tambahan yang berarti untuk beta-agonis yang dihirup. Penggunaannya dalam serangan asma akut masih kontroversial.
- Anestetik disosiatif ketamin secara teori berguna bila intubasi dan ventilasi mekanis diperlukan pada orang yang hampir mengalami gagalnafas; namun, tidak ada bukti klinis untuk mendukungnya.
Bagi orang yang menderita asma persisten berat yang tidak dapat dikontrol dengan kortikosteroid dan LABA,
bronkial termoplasti bisa menjadi pilihan. Pengobatan ini melibatkan aplikasi energi panas terkontrol ke dinding saluran nafas dalam serangkaian sesi
bronkoskopi.Walaupun mungkin meningkatkan frekuensi serangan dalam beberapa bulan
pertama, frekuensi selanjutnya tampaknya diturunkan. Efek lewat dari
setahun belum diketahui.
Pengobatan alternatif
Banyak orang yang menderita asma, seperti mereka yang mengalami gangguan kronis lain, menggunakan
pengobatan alternatif; survei menunjukkan sekitar 50% menggunakan terapi non-konvensional.
Hanya ada sedikit data untuk mendukung efektivitas terapi-terapi ini.
Bukti tidak mencukupi untuk mendukung penggunaan Vitamin C.
Akupuntur tidak dianjurkan untuk pengobatan karena bukti tidak mencukupi untuk mendukung penggunaannya.
Ioniser udara
tidak menunjukkan bukti memperbaiki gejala asma atau menguntungkan
fungsi paru-paru; ini berlaku baik untuk generator ion negatif maupun
positif.
"Terapi manual", termasuk
osteopatik,
kiropraktik,
fisioterapi dan
terapi pernafasan, tidak mempunyai cukup bukti yang mendukung penggunaannya dalam pengobatan asma.
Teknik pernafasan buteyko untuk mengontrol hiperventilasi bisa menyebabkan penurunan penggunaan obat namun tidak berpengaruh pada fungsi paru-paru.Sehingga sebuah panel ahli merasa bahwa bukti tidak mencukupi untuk mendukung penggunaannya. ref name="NHLBI07p240">
NHLBI Guideline 2007, hlm. 240</ref>
Prognosis
Disability-adjusted life year untuk asma per 100.000 penduduk dalam tahun 2004.
[130]
no data
<100
100–150
150–200
200–250
250–300
300–350
|
350–400
400–450
450–500
500–550
550–600
>600
|
Prognosis untuk asma biasanya bagus, terutama untuk anak-anak dengan penyakit ringan.
Mortalitas sudah menurun selama dua dekade terakhir ini karena
pengenalan penyakit yang lebih baik dan perbaikan dalam pengobatan.
Secara global asma menyebabkan disabilitas/ ketidakmampuan derajat
menengah dan berat pada 19,4 jutaan orang hingga tahun 2004 (16 jutaan
orang yang berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah). Dari asma yang didiagnosa selama masa kanak-kanak, separuh dari kasus tidak lagi terdiagnosa setelah satu dekade. Perubahan saluran nafas terdeteksi, tapi tidak diketahui apakah menunjukkan perubahan yang berbahaya atau bermanfaat.Pengobatan dini dengan kortikosteroid tampaknya mencegah atau memperbaiki penurunan fungsi paru-paru.
Epidemiologi
Tingkat asma di berbagai negara di dunia tahun 2004.
no data
<1%
1-2%
2-3%
3-4%
4-5%
5-6%
|
6-7%
7-8%
8-10%
10-12.5%
12.5–15%
>15%
|
Hingga tahun 2011, 235–300 juta orang di seluruh dunia menderita asma, dan sekitar 250.000 orang meninggal per tahun karena penyakit ini. Tingkatnya berbeda-beda antar Negara dengan prevalensi antara 1 dan 18%. Lebih sering ditemukan di
negara maju dibandingkan
negara berkembang.Jadi tingkatnya terlihat lebih rendah di Asia, Eropa Timur dan Afrika.
Di negara maju penyakit ini lebih banyak diderita oleh mereka yang
kurang beruntung secara ekonomi sementara di negara berkembang lebih
biasa ditemukan di kalangan atas. Alasan untuk perbedaan ini tidak diketahui. Lebih dari 80% mortalitas terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Walaupun asma dua kali lebih sering ditemukan di kalangan anak laki-laki dibandingkan anak perempuan , asma berat terjadi pada keduanya setara.Sebaliknya wanita dewasa memiliki tingkat asma yang lebih tinggi dibandingkan pria dan lebih sering ditemukan di kalangan orang muda dibandingkan orang tua.
Tingkat asma global telah meningkat secara tajam antara tahun 1960an dan 2008sehingga penyakit ini diakui sebagai masalah kesehatan umum utama sejak tahun 1970an.Tingkat asma sudah stabil di negara maju sejak pertengahan 1990an dengan peningkatan terbaru terutama di negara berkembang. Asma diderita sekitar 7% penduduk Amerika Serikat dan 5% penduduk Inggris. Di Kanada, Australia dan Selandia Baru tingkatnya sekitar 14–15%.